Mengenalkan Pekerjaan Rumah Tangga pada Anak

Di timeline media sosial seringkali ada para ibu yang berkeluh kesah capeknya mengurus rumah. Baru saja dibersihkan, tak lama kemudian rumah sudah berantakan lagi dengan mainan yang bertebaran di mana-mana. Rasanya pasti melelahkan sekali memang kalau harus membereskan mainan sepanjang waktu. Kalau sering mengalami ini, yang jadi pertanyaan adalah sudahkah Mom mengenalkan pekerjaan rumah tangga pada anak?

Tujuan Mengenalkan Pekerjaan Rumah Tangga Pada Anak

Mengenalkan pekerjaan rumah tangga pada anak ini tujuannya bukanlah sekadar membantu orangtua atau asisten rumah tangga saja untuk membersihkan rumah, melainkan menumbuhkan kesadaran akan adanya konsekuensi, tanggung jawab, empati, dan kemandirian pada anak.

Anak-anak yang terbiasa melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga, yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, tidak hanya tumbuh jadi anak yang bertanggung jawab pada benda-benda miliknya sendiri, bertanggung jawab pada tugasnya, tetapi kelak ketika ia sudah berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah, ia bisa lebih bertanggung jawab pada aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat (karena sebelumnya ia sudah mengenal adanya aturan yang diterapkan di rumahnya sendiri).

Masalahnya, banyak pula orang tua yang mengeluh betapa sulitnya mengenalkan dan membuat anak mau mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, seperti membereskan mainannya sendiri, merapikan tempat tidur, menyapu kamar, membantu pekerjaan rumah tangga lainnya. Ada saja alasan yang diajukan anak untuk mangkir dari tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Atau bisa jadi anak enggan melakukan aktivitas rumah tangga mesti telah bolak-balik diminta dengan berbagai sebab.

Bagaimana caranya mengenalkan pekerjaan rumah tangga pada anak sehingga anak mau melaksanakan tugasnya dengan baik dan senang hati?

Mengenalkan Pekerjaan Rumah Tangga Pada Anak

1. Tugas Sesuaikan Dengan Umur dan Kemampuan Anak

Saat mengenalkan berbagai jenis pekerjaan rumah tangga pada anak, sebaiknya sesuaikan jenis pekerjaan dengan usia dan kemampuan anak. Jika kita memberi anak tugas yang melebihi kemampuannya, tentu saja anak bingung atau enggan melakukannya.

Jadi, ketika hendak memberikan pekerjaan rumah tangga tertentu kepada anak, pertimbangkan berat ringan pekerjaan, berikan pekerjaan yang tidak menimbulkan cidera pada anak, pekerjaan yang tidak membutuhkan tenaga besar yang akan membuat anak kelelahan, dan pekerjaan itu mampu dilakukan anak.

2. Jam Kerja

Jam kerja saat anak melakukan tugasnya juga mesti ditentukan berdasarkan kesepakatan antara orangtua dan anak. Orang tua perlu terlebih dahulu mendengarkan keinginan anak, kemudian secara bersama-sama memutuskan jam kerja dan pekerjaan apa saja yang harus dilakukan anak. Selain bisa membangun tanggung jawab, mendiskusikan pekerjaan terlebih dahulu membantu anak untuk belajar berkomunikasi dua arah dengan baik.

Jam kerja yang bisa disesuaikan dengan anak, misalnya merapikan tempat tidur sesaat setelah bangun tidur, membereskan mainan setelah selesai bermain, menyiapkan buku pelajaran atau peralatan sekolah sebelum tidur, menyiram tanaman di sore hari, dan sebagainya.

3. Spesifikasi Tugas

Ada cukup banyak orangtua yang hanya memberi perintah tanpa menjelaskan terlebih dahulu apa yang seharusnya dikerjakan anak dengan lebih spesifik. Karena bingung atau tidak mengerti, anak pun jadi tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Akibatnya, tentu saja pekerjaan rumah yang diberikan tidak dilaksanakan dengan baik.

Untuk itu, cobalah memberi tugas dengan detail yang lebih spesifik, bahkan untuk pekerjaan sederhana. Misalnya, membereskan mainan dengan memasukkan mainan tersebut ke kotak penyimpanan mainan, merapikan buku-buku yang sudah selesai dibaca langsung di rak buku, membersihkan tempat tidur dengan menyusun bantal dan guling serta menarik ujung-ujung seprai agar bagian atas seprai licin kembali, dan sebagainya.

4. Beri Contoh dan Bantu Anak Tetap Konsisten

Anak itu adalah cerminan orangtuanya. Apa yang dilakukan anak seringkali mereka pelajari dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orangtua atau orang-orang yang tinggal satu rumah dengannya. Maka dalam proses mengenalkan pekerjaan rumah pada anak, orangtua perlu memberi contoh nyata dengan melakukan hal yang sama.

Jika anak lupa akan tanggung jawab yang harus ia selesaikan, ingatkan, jangan sekadar dimarahi. Sesekali, bantu anak saat menjalankan tugasnya sehingga ia mengerti mengenai konsep saling membantu dalam menjalankan tugas. Untuk mendukung anak agar tetap konsisten, tak masalah jika orang tua terus mengingatkan anak ketika anak lupa atau lalai.

5. Kenalkan pada Konsep Tiap Hal Ada Risiko

Ketika anak lupa membereskan mainan atau buku pelajaran, orang tua jangan langsung menggantikan anak untuk melakukan tugasnya. Biarkan saja dan ketika anak bingung mencari mainan atau buku yang dibutuhkannya, kenalkan tentang konsep risiko. Jika barang pribadi tidak disimpan dengan baik maka saat membutuhkan pastilah sulit untuk menemukannya.

Orang tua juga bisa mengajak anak berdiskusi tentang sebab akibat dari pekerjaan rumah yang tak dilakukan dengan baik, misalnya ketika mainan tidak dibereskan maka akan membuat rumah berantakan dan mengganggu kenyamanan anak sendiri dan orang lain. Ketika tempat tidur dibiarkan berantakan maka tidur pun jadi tak nyaman. Selain itu, beri pula pemahaman saat anak tak menjalankan kewajibannya maka ada hak orang lain yang jadi terganggu, misalnya Ibu bisa terpeleset karena terinjak mainan anak, dan sebagainya.

Ada banyak cara lain dalam mengenalkan pekerjaan rumah tangga pada anak. Masing-masing cara bisa diperkenalkan satu persatu kemudian dipilih mana cara terbaik dan paling nyaman untuk mendukung anak menjadi anak yang bertanggung jawab, mandiri, dan bisa konsisten menjalankan tugasnya. Intinya, semakin dini mengenalkan pekerjaan rumah tangga pada anak, semakin cepat proses menanamkan didikan akan pentingnya tanggung jawab dan kemandirian dalam kehidupan.

Ajak Anak Mengenali Perasaannya

Ajak Anak Mengenali Perasaannya – Setiap orangtua pastilah ingin anaknya tumbuh dengan sehat, baik secara jasmani (tubuh), rohani (jiwa) dan sehat secara sosial. Sehat secara jasmani berarti anak memiliki badan yang bugar serta memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga tak mudah sakit. Sementara sehat secara sosial berarti anak mampu berinteraksi dengan sekelilingnya dengan baik.

Apa yang dimaksud sehat secara rohani? Anak yang sehat jiwanya akan tampak lebih ceria dan bahagia. Ia juga mampu menyesuaikan diri dengan sekelilingnya, baik di lingkungan rumah, sekolah, bahkan dengan alam. Selain itu, ia tahu dan bisa menerima kelemahan maupun kelebihannya serta memiliki pandangan yang positif terhadap kehidupan.

Untuk bisa mendapatkan sehat secara lengkap, baik tubuh, jiwa, maupun sosial tadi, anak perlu mengenali perasaannya sehingga ketika ia mengalami situasi yang tak nyaman, ia bisa mengomunikasikannya dengan Anda, orangtuanya.

Mengenal Kondisi yang Menimbulkan Ketidaknyamanan

Ada kondisi-kondisi yang sering membuat anak tidak nyaman, namun tidak disadari oleh orangtua. Anak yang merasa tidak nyaman tersebut juga tidak benar-benar memahami perasaan itu dan akibatnya ia mengalami stres. Ya, anak bisa stres dan jika tak ditangani dengan baik malah bisa membuat anak sakit atau berdampak pada tumbuh kembangnya secara keseluruhan. Oleh karena itu, ajak anak mengenali perasaannya pada berbagai kondisi.

Beberapa kondisi yang biasanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi anak, antara lain:

  • Ketika pindah rumah dan hidup di lingkungan baru.
  • Anak pindah sekolah dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang belum dikenalnya.
  • Ketika berhadapan dengan teman, guru, atau seseorang yang menimbulkan perasaan tak nyaman.
  • Saat menghadapi ujian di sekolah.
  • Ketika terjadi masalah di dalam maupun di luar rumah.

Ajak Anak Mengenali Perasaannya

Setelah tahu beberapa kondisi yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi anak, Anda sebagai orangtua perlu melakukan beberapa hal seperti melihat reaksi yang timbul dari anak saat berhadapan dengan kondisi tersebut. Kemudian, ajak anak mengenali perasaannya.

Beberapa tanda perasaan tidak nyaman yang perlu dikenalkan pada anak, misalnya:

  • Jantung berdebar-debar dan rasanya jadi sulit bernapas.
  • Keluar keringat secara berlebihan.
  • Otot-otot menjadi tegang, sakit perut, atau sakit kepala.
  • Jadi tidak nafsu makan.
  • Susah tidur.

Beritahu pula anak kalau perasaan tak nyaman tadi wajar terjadi ketika ia berada dalam kondisi yang belum dikenalnya. Memang, setelah tanda perasaan tak nyaman muncul, akan diikuti pula dengan perasaan cemas dan khawatir secara berlebihan, atau bisa juga merasa sangat sedih tanpa penyebab yang jelas. Perasaan lain yang terlihat mencolok seperti anak menjadi mudah marah, tersinggung, uring-uringan, atau malah jadi susah berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran di sekolah.

Apa yang Harus Dilakukan untuk Mengatasi Perasaan Tidak Nyaman?

  1. Ajarkan anak untuk bercerita atau membicarakan apa yang sedang dirasakannya dan jangan biarkan anak menyimpan semua perasaan itu sendirian.
  2. Berikan arahan dalam bentuk nasihat yang tidak menggurui dan memaksa.
  3. Ajak anak mengatasi perasaan tidak nyaman yang muncul dengan mengeksplorasi lingkungan baru yang sebelumnya telah membuatnya cemas. Lakukan interaksi dengan tetangga dan kenalkan mereka dengan teman sebaya.
  4. Alihkan perhatian anak dengan melakukan aktivitas yang sesuai dengan minat anak.
  5. Bantu anak menenangkan pikiran dan perasaannya melalui kegiatan ibadah sesuai dengan agama.
  6. Dengarkan keluhan anak, jangan memarahaninya, mengecilkan perasaannya, atau malah menyalahkannya. Beri anak dukungan penuh dan cobalah “melihat” dari sudut pandang anak.
  7. Terapkan pola hidup yang sehat karena dengan tubuh yang sehat maka jiwa pun bisa terjaga tetap sehat. Perbanyak aktivitas fisik dan konsumsi makanan sehat.

Mengajak anak mengenali perasaannya hanyalah salah satu solusi untuk mencegah timbulnya stres pada anak karena suatu kondisi. Gampang-gampang susah sih memang, namun asalkan orangtua mau berusaha membangun komunikasi yang baik dengan anak maka masalah apa pun pasti bisa diatasi dengan baik.