Mengenal Low Back Pain Penyebab dan Cara Mencegahnya

Pernahkah Anda merasakan nyeri pada bagian belakang tubuh dekat pinggang? Rasa nyeri ini tidak terjadi hanya sesekali, namun terasa terus menerus. Jika pernah, bisa jadi Anda mengalami Low Back Pain (LBP). Apa sih sebenarnya Low Back Pain?

Low Back Pain (LBP) adalah rasa nyeri yang terjadi di daerah pinggang bagian bawah. Kalau dibiarkan dan tak segera ditangani maka rasa nyeri tersebut bisa menjalar hingga ke kaki. Pada kondisi tertentu, rasa nyeri bisa teramat sangat hingga penderitanya mengalami kesulitan untuk bergerak dan harus bed rest atau malah ada yang sampai dirawat di rumah sakit.

Di Amerika, Low Back Pain (LBP) pernah dikeluhkan kurang lebih 80 persen penduduk di sana. Sementara di Indonesia, diperkirakan jumlahnya pun sama banyaknya, hanya saja kebanyakan orang lebih sering mengabaikan rasa nyeri di bagian pinggang belakang tersebut. Padahal mengabaikan rasa nyeri di bagian tubuh mana pun sangatlah berbahaya. Low Back Pain (LBP) sendiri bisa merupakan gejala yang merujuk suatu penyakit dan perlu sekali untuk dicari penyebabnya sebelum terlambat. Penemuan penyebab timbulnya rasa nyeri yang dilakukan sedini mungkin akan membuat proses pengobatan dan penyembuhan menjadi lebih cepat.

Penyebab Low Back Pain

Pada dasarnya, rasa nyeri yang muncul di bagian pinggang bawah ini bisa disebabkan karena terjadinya tekanan pada susunan saraf tepi daerah pinggang (saraf terjepit), yang disebabkan adanya gangguan pada otot dan jaringan sekitarnya, gangguan pada sarafnya sendiri, atau karena ada kelainan tulang belakang maupun kelainan di tempat lain, misalnya infeksi, batu ginjal, dan lain-lain.

Ketegangan otot atau yang disebut juga spasme otot merupakan penyebab terbanyak dari Low Back Pain. Ketegangan otot ini dapat terjadi karena gerakan pinggang yang terlalu mendadak atau berlebihan, atau bisa pula karena terjadi pengapuran tulang belakang di sekitar pinggang yang mengakibatkan jepitan pada saraf dan berakibat timbullah rasa nyeri.

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah terdorongnya nucleus pulposus, suatu zat yang berada di antara ruas-ruas tulang belakang, ke arah belakang, baik lurus maupun ke arah kanan atau kiri, sehingga menekan sumsum tulang belakang. Rasa nyeri bisa pula akibat tekanan/tarikan serabut-serabut saraf di area sekitar pinggang. Penyebab HNP bisa karena trauma, terbentur, kecelakaan, atau karena suatu penyakit, seperti tumor, infeksi, batu ginjal, dan sebagainya.

Untuk tahu penyebab secara pasti timbulnya Low Back Pain (LBP), ada baiknya sesegera mungkin memeriksakan diri ke pusat perawatan kesehatan terkait, pemeriksaan dengan foto rontgen tulang belakang, scanning, MRI, dan metode pemeriksaan lainnya yang dianjurkan petugas medis. Intinya, mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu sehingga bisa menentukan pengobatan yang tepat demi menghilangkan rasa sakit (sekaligus penyakit jika memang sedang mengidap penyakit tertentu yang menyebabkan Low Back Pain).

Penanganan yang terbaik adalah dengan menghilangkan penyebabnya (kausal), walaupun bagi yang mengalaminya, yang terpenting adalah menghilangkan rasa sakitnya (simptomatis). Untuk mencari penyebab yang tepat, selain dengan pemeriksaan foto rontgen poros tulang belakang, kadang diperlukan pemeriksaan khusus misalnya scanning, MRI, dan lain-lain.

Cara Mencegah Low Back Pain

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Nasihat ini benar adanya. Bagaimanapun lebih enak memiliki tubuh sehat dan terbebas dari sakit daripada harus mengalami rasa sakit yang berkepanjangan. Untuk dapat memiliki tubuh yang sehat dan terhindar dari Low Back Pain, lakukan cara mencegah low back pain, sebagai berikut:

  • Olahraga teratur dengan intensitas cukup. Pilih pula gerakan olahraga yang tepat.
  • Hindari makanan yang mengandung banyak lemak, asam urat, dan lainnya, agar memperlambat terjadinya pengapuran tulang belakang.
  • Usahakan jangan sampai terjadi kelebihan berat badan.
  • Jalani pola hidup sehat dengan lingkungan sehat, udara yang bersih, dan hindari polusi yang berlebihan.
  • Hidup teratur bebas stres.

Semoga setelah mengenal low back pain, penyebab, dan cara mencegahnya, maka Anda bisa terhindar dari rasa nyeri di pinggang ini. Andaipun saat ini sering merasakan nyeri akibat Low Back Pain (LBP), segeralah memeriksakan diri dan lakukan pengobatan yang dianjurkan petugas medis. Mari hidup sehat bebas penyakit.

Jaga Kesehatan Telinga Dengan Rumus 60 per 60

Mendengarkan musik merupakan salah satu kegiatan yang banyak dilakukan orang. Perhatikan saja ketika sedang berada di komuter line, di kereta, di bus, atau di pusat keramaian, cukup banyak orang mengenakan earphone di telinga. Kegiatan mendengarkan musik di mana pun dan kapan pun ini didukung pula dengan teknologi smartphone yang dilengkapi fitur-fitur untuk mengakses musik maupun film baik secara online maupun offline.

Tidak ada yang salah mendengarkan musik dengan earphone kapan pun dan di mana pun tadi, namun cara mendengarkannya yang salah bisa memberi dampak buruk bagi telinga.

Berdasarkan data penelitian yang berhasil dihimpun WHO ditemukan bahwa kurang lebih 50 persen orang berusia 12-35 tahun senang mendengarkan musik dengan volume keras yang bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada sistem pendengaran manusia.

Jaga Kesehatan Telinga Dengan Rumus 60 per 60

Perlu diketahui, di telinga bagian dalam terdapat sel-sel rambut yang berfungsi mendeteksi gelombang suara dan mengirimkannya sebagai sinyal saraf, sehingga otak akan mampu menganalisisnya sebagai suara.

Kebiasaan menggunakan earphone untuk mendengarkan musik atau suara dengan volume berlebihan bisa merusak sel-sel rambut di dalam telinga tadi dan akibatnya pendengaran pun terganggu. Apakah pendengaran yang terganggu bisa disembuhkan? Nah ini nih masalahnya. Sel-sel rambut di dalam telinga yang sudah terlanjur rusak tidak bisa tumbuh kembali. Artinya, kerusakan sel-sel rambut tidak bisa disembuhkan.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan telinga?

Dikutip dari detikhealth, yang kemudian ditulis ulang di majalah Mediakom Edisi 91, Februari 2018, dr. Damayanti Soetjipto, SpTHT-KL, Ketua Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT), menganjurkan untuk menggunakan rumus 60 per 60.

Rumus 60 per 60 artinya mendengarkan musik atau hiburan lainnya hanya dengan menggunakan volume maksimal 60 persen dan dalam waktu 60 menit sehari. Jika masi ingin menggunakan earphone untuk mendengarkan musik atau hiburan lainnya, telinga perlu diistirahatkan atau diberi jeda dulu.

Yuk jaga kesehatan telinga dengan rumus 60 per 60. Pada nggak mau kan kalau sampai kehilangan kemampuan mendengar di usia muda?

Ajak Anak Mengenali Perasaannya

Ajak Anak Mengenali Perasaannya – Setiap orangtua pastilah ingin anaknya tumbuh dengan sehat, baik secara jasmani (tubuh), rohani (jiwa) dan sehat secara sosial. Sehat secara jasmani berarti anak memiliki badan yang bugar serta memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga tak mudah sakit. Sementara sehat secara sosial berarti anak mampu berinteraksi dengan sekelilingnya dengan baik.

Apa yang dimaksud sehat secara rohani? Anak yang sehat jiwanya akan tampak lebih ceria dan bahagia. Ia juga mampu menyesuaikan diri dengan sekelilingnya, baik di lingkungan rumah, sekolah, bahkan dengan alam. Selain itu, ia tahu dan bisa menerima kelemahan maupun kelebihannya serta memiliki pandangan yang positif terhadap kehidupan.

Untuk bisa mendapatkan sehat secara lengkap, baik tubuh, jiwa, maupun sosial tadi, anak perlu mengenali perasaannya sehingga ketika ia mengalami situasi yang tak nyaman, ia bisa mengomunikasikannya dengan Anda, orangtuanya.

Mengenal Kondisi yang Menimbulkan Ketidaknyamanan

Ada kondisi-kondisi yang sering membuat anak tidak nyaman, namun tidak disadari oleh orangtua. Anak yang merasa tidak nyaman tersebut juga tidak benar-benar memahami perasaan itu dan akibatnya ia mengalami stres. Ya, anak bisa stres dan jika tak ditangani dengan baik malah bisa membuat anak sakit atau berdampak pada tumbuh kembangnya secara keseluruhan. Oleh karena itu, ajak anak mengenali perasaannya pada berbagai kondisi.

Beberapa kondisi yang biasanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi anak, antara lain:

  • Ketika pindah rumah dan hidup di lingkungan baru.
  • Anak pindah sekolah dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang belum dikenalnya.
  • Ketika berhadapan dengan teman, guru, atau seseorang yang menimbulkan perasaan tak nyaman.
  • Saat menghadapi ujian di sekolah.
  • Ketika terjadi masalah di dalam maupun di luar rumah.

Ajak Anak Mengenali Perasaannya

Setelah tahu beberapa kondisi yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi anak, Anda sebagai orangtua perlu melakukan beberapa hal seperti melihat reaksi yang timbul dari anak saat berhadapan dengan kondisi tersebut. Kemudian, ajak anak mengenali perasaannya.

Beberapa tanda perasaan tidak nyaman yang perlu dikenalkan pada anak, misalnya:

  • Jantung berdebar-debar dan rasanya jadi sulit bernapas.
  • Keluar keringat secara berlebihan.
  • Otot-otot menjadi tegang, sakit perut, atau sakit kepala.
  • Jadi tidak nafsu makan.
  • Susah tidur.

Beritahu pula anak kalau perasaan tak nyaman tadi wajar terjadi ketika ia berada dalam kondisi yang belum dikenalnya. Memang, setelah tanda perasaan tak nyaman muncul, akan diikuti pula dengan perasaan cemas dan khawatir secara berlebihan, atau bisa juga merasa sangat sedih tanpa penyebab yang jelas. Perasaan lain yang terlihat mencolok seperti anak menjadi mudah marah, tersinggung, uring-uringan, atau malah jadi susah berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran di sekolah.

Apa yang Harus Dilakukan untuk Mengatasi Perasaan Tidak Nyaman?

  1. Ajarkan anak untuk bercerita atau membicarakan apa yang sedang dirasakannya dan jangan biarkan anak menyimpan semua perasaan itu sendirian.
  2. Berikan arahan dalam bentuk nasihat yang tidak menggurui dan memaksa.
  3. Ajak anak mengatasi perasaan tidak nyaman yang muncul dengan mengeksplorasi lingkungan baru yang sebelumnya telah membuatnya cemas. Lakukan interaksi dengan tetangga dan kenalkan mereka dengan teman sebaya.
  4. Alihkan perhatian anak dengan melakukan aktivitas yang sesuai dengan minat anak.
  5. Bantu anak menenangkan pikiran dan perasaannya melalui kegiatan ibadah sesuai dengan agama.
  6. Dengarkan keluhan anak, jangan memarahaninya, mengecilkan perasaannya, atau malah menyalahkannya. Beri anak dukungan penuh dan cobalah “melihat” dari sudut pandang anak.
  7. Terapkan pola hidup yang sehat karena dengan tubuh yang sehat maka jiwa pun bisa terjaga tetap sehat. Perbanyak aktivitas fisik dan konsumsi makanan sehat.

Mengajak anak mengenali perasaannya hanyalah salah satu solusi untuk mencegah timbulnya stres pada anak karena suatu kondisi. Gampang-gampang susah sih memang, namun asalkan orangtua mau berusaha membangun komunikasi yang baik dengan anak maka masalah apa pun pasti bisa diatasi dengan baik.